Selasa, 02 Februari 2016

Me and The Seniors

  Perkenalkan sebelumnya nama ku Gita Dewi Anjani. Biasa di panggil Gita. Sebenarnya ini baru pertama kalinya aku menulis blog. tapi ini bukan blog pertamaku. Ini udah lama heheh..., aku suka banget nulis cerita, tapi kalau soal genre sih tergantung mood. Aku emang baru amatir aja. Ikut-ikutan nulis di blog. Ini bukan cerita pertama yang ku buat. Tapi bagi pembaca di luar sana tolong setelah membaca ceritaku ini tulis komentar buat pengembangan aku aja. Terimakasih sebelumnya hehe.... ^_^

  ~Awalnya aku merasa perasaan ini hanyalah sebatas kagum. Tapi semakin lama aku merasa gejolak aneh. Dan anehnya gejolak itu semakin besar ketika bertemu denganya.~

                Tahun ini adalah tahun pertamaku masuk SMA. Akhirnya setelah perjuanganku yang berat. Aku bisa bersekolah di SMA favoritku. SMA Nusa Bangsa. Tadi malam, aku sudah menyiapkan beberapa perlengkapan MOS. Aku juga sudah men-set alarm ku supaya tidak kesiangan. Mudah-mudahan besok berjalan baik.  
            TRRRTTTT..... Suara berisik itu membangunkanku. Aku hanya melirik sebentar di sebelah tempat tidurku. Lalu mematikan alarm itu. Aku kembali tidur dan menarik selimutku rapat-rapat.
            “ Indahhhh...” Seseorang mendobrak pintu kamarku. Aku yang terkejut tiba-tiba bangun dan melihat Salsa berdiri di kamarku dengan tatapannya yang seram. Aku memperhatikannya dengan pakaian yang rapih dan juga banyak pernak-pernik aneh di bajunya. Tunggu ada apa ini? hari apa ini?
Aku menepuk jidat. “ Ya ampun aku lupa. Jam berapa ini” Aku langsung berdiri dari tempat tidurku. Berlari mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
            “ Katanya udah masang jam alarm tapi masih aja kesiangan. Cepetan ndah. Kalau  telat nanti kita bisa di hukum” Salsa terus mengomeliku dari balik kamar mandi. Aku sendiri juga sangat menyesal kenapa kali ini aku bangun kesiangan. Padahal ini hari MOS pertamaku.
            Setelah selesai mandi, aku berlari lagi mengambil seragamku di dalam lemari. Aku mengenakannya dengan sangat cepat seperti seorang pembalap. Lalu, aku memakai perlengkapan MOS ku. “ Sa bantuin dong. Ribet nih” Aku meminta Salsa menguncir rambutku. Sementara aku masih sibuk mencari topi capingku.
            “ Udah selesai. Ayo berangkat”
            “ Ntar dulu. Kayaknya masih belum rapih” Aku berdiri di depan cermin membetulkan kunciranku yang sedikit berantakan.
            “ Kita nggak punya waktu lagi. Udah mepet banget”
            “ Ya udah ayo” Aku dan Salsa berlari turun menuju ruang makan.
            Disana aku melihat Papa, Mama dan Mas Dimas yang sedang sarapan. “ Kalian nggak sarapan dulu?” Tanya Mama yang melihat kami terburu-buru. Baru aku ingin menjawabnya tapi Salsa sudah duluan menggeleng.” Nggak usah Tan. Buru-buru nih”
 “ Tapi aku laper Sa” kataku dengan nada lirih. Karena semalam aku tidak sempat makan. Jadi aku pikir aku bisa sarapan pagi ini karena bangun lebih pagi. Tapi kenyataannya aku telat.
            “ Makanya bangun lebih pagi kalau nggak mau telat” Aku menatapnya yang sedang menggodaku dengan roti di tangannya. Rasanya aku ingin membalas kalau saja Salsa tidak menyuruhku lebih cepat.
            “ Mau Papa anterin nggak?” kata Papa menawariku.
            “ Nggak usah Om. Kita naik ojek aja” Lagi-lagi Salsa menggeleng. Padahal tadinya aku ingin sekali Papa bisa mengantar kami supaya kami bisa lebih cepat sampai. Tapi Salsa terus mengomeliku. Dia bilang kami tidak akan keburu. Naik ojek lebih cepat. Akhirnya aku hanya mengiyakannya saja.
            “ Ma, Pa kita berangkat dulu ya” Salsa sudah duluan berlari di depanku. Ia bahkan sama sekali tidak menungguku.  Aku dengan energi yang tersisa berusaha mengejarnya. Sambil memegangi perutku yang sangat keroncongan.  Aku ikut berlari di belakangnya.
            “ Salasa, tunggu...” Teriakku.
........
            Setelah mengebut di jalan tadi dengan tukang ojek. Aku dan Salsa bisa sampai di sekolah tepat waktu. Walaupun jam menunjukkan lima menit lagi pembukaan MOS di mulai tapi untungnya masih banyak anak- anak lain di belakang kami yang juga baru datang.
            Aku dan Salsa kedapatan di kelompok yang sama. Kami langsung berbaris rapih dengan di pimpin Kak Tari dan Kak Rio. Dari kabar yang ku dengar mereka berdua adalah salah satu kakak OSIS yang sangat baik. Ah, beruntungnya aku bisa kedapatan kakak OSIS seperti mereka. Mudah-mudahan hari ini aku tidak kena omel dari mereka.
            Tak lama, pembukan MOS pun dimulai. Di awali dengan pidato dari Kepala Sekolah Beliau naik ke atas panggung kecil dengan perlahan. Selama beberapa saat, beliau menyampaikan banyak hal yang mengatakan bahwa betapa bangganya dengan murid-murid baru di sekolah ini.  Lalu lanjut dengan sambutan dari Ketua OSIS. Cowok yang mengenakan almet merah itu naik ke atas panggung kecil di depannya setelah Kepala Sekolah turun dan mempersilahkannya naik. Dia memperkenalkan diri dengan nama Rangga. Aku banyak mendengar dari semua orang kalau Kak Rangga adalah sosok yang sangat sempurna. Dengan wajah tampan, kulit putih dan berkharisma selain itu dia juga aktif di ekskul basket. Jadi tidak salah kalau semua cewek disini berteriak histeris saat dia sedang menyampaikan rasa terimakasihnya.
Tapi buatku dia sosok yang biasa saja. Aku banyak melihat cowok yang seperti itu. Mereka sangat sempurna secara fisik. Tapi kebanyakan dari mereka buruk dalam memperlakukan wanita. Aku tidak tahu sifat Kak Rangga seperti apa. Tapi melihat respon semua orang disini. Mungkin dia bukan salah satu cowok yang seperti itu. Entahlah, aku tidak ingin tahu. “ Eh liat deh ndah. Ganteng banget ya” Aku melihat Salsa terkagum-kagum dengannya. Pasti dia sudah terbius dengan pesona cowok itu.
 “ Lumayan” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Dia masih memberikan sambutannya. Sementara semua murid cewek disini sudah berteriak histeris tidak jelas daritadi. Termasuk Salsa. Matanya hampir tidak berkedip memandang Kak Rangga. Sementara aku sedikit risih dengan sikap mereka yang tidak berhenti mengeluhkan namanya. 
Sepertinya Kak Rangga mulai menyadari kalau keadaaan disini sangat tidak tenang. Dia pun menyelesaikan sambutannya dengan cepat. Teriakan histeris yang daritadi ku dengar perlahan mulai mereda diikuti dengan Kak Rangga yang sudah turun dan kembali ke barisan deretan OSIS lainnya “ Yah dia  turun” Keluh seseorang di sampingku. Aku hanya menggeleng saja mendengarnya di sampingku.
MOS di hari pertama. Kami hanya di beri penjelasan tentang sekolah ini. Bagaimana awalnya terbentuk dan prestasi apa saja yang sudah di raih sekolah ini sampai sekarang. Setelah selesai, Kak Tari dan Kak Rio memberikan kami games. Karena aku sangat menyukainya. Jadilah aku yang paling antusias .
“ Yang kalah dari games ini hukumannya harus minta tandatangan dari anggota OSIS. Setuju?” Suara Kak Rio sangat bersemangat. Kami pun tak kalah berseru semangat.
Games pun di mulai. Kami sudah bersiap-siap. Karena games ini hanya membutuhkan konsentrasi yang kuat. Jadi, kami harus fokus supaya tidak terkecoh.
“ Hiduungg!” Suara Kak Tari yang sangat kencang membuatku kaget. Aku sedikit kagok di awal. Tapi aku berusaha fokus dan mendengar suara Kak Tari sekali lagi. Beberapa temanku salah menyentuh hidung. Mereka malah ikutan Kak Tari menyentuh kepala. Ada-ada saja. Jadi...benar kalau games ini sangat membutuhkan banyak konsentrasi.
Karena banyak yang salah. Akhirnya Kak Rio dan Kak Tari sepakat mengulangnya dari awal. Tadi hanya pemanasan saja. Untuk merefleksikan beberapa saraf otak kita. Dan inilah...permainan dimulai...
Lambat laun, konsentrasiku mulai hilang. Aku yang mendadak perutku mulai protes.  Astaga, kenapa baru sekarang bereaksi begini. Tiba-tiba Kak Rio menunjuk ke arahku di bangku tengah. “ Kamu yang duduk disana. Kamu kalah. Sekarang maju ke depan” Aku melirik Salsa yang duduk sebangku denganku. Bagaimana ini? Aku pasti di hukum.
Aku berjalan perlahan ke depan. Sambil menahan rasa laparku yang semakin menjadi. Aku terus menunduk. “ Kamu masih ingat kan hukumannya? Sekarang ini kertasnya. Satu jam dari sekarang kamu sudah harus balik lagi kesini” Aku hanya mengangguk. Lalu pergi melaksanakan hukumanku.
Dari tulisan di kertas ini. Aku di suruh mencari lima tandatangan dari anak OSIS. Tapi satu tandatangan harus formatur OSIS selain ketua OSIS. “ Apa-apaan ini?” Keluhku. Kalau hanya meminta anggota OSIS. Itu mungkin masih sedikit mudah.Tapi formatur? Mereka pasti tengah sibuk hari ini. Bagaimana aku bisa dapat tandatangannya. Hukuman ini benar-benar menyusahkan, batinku.  “ Ya udah deh. Mau bagaimana lagi” kataku pasrah.
Aku pun segera mencari kakak OSIS lain. Yang mungkin tidak sedang banyak tugas. Atau menganggur? Entahlah tapi aku harus berusaha mencarinya. Di halaman sekolah, aku melihat Kak Seni dan Kak Dodi. Tanpa pikir panjang, aku pun segera menghampiri keduanya. “ Kak maaf boleh minta tanda tangannya ga?” Aku berusaha bersikap sesopan mungkin supaya mereka iba lalu memberikan tandatangannya.
“ Kamu lagi di hukum ya?” tanya Kak Seni tertawa. “ Iya kak” kataku seraya tersenyum. Kak Seni banyak bertanya padaku. Tentang aku berasal dari sekolah mana atau apa alasanku bersekolah disini. Tapi walaupun begitu aku harus tetap menjawabnya. Jangan sampai membuat mereka marah. Itu yang selalu aku pikirkan.
“ Ya udah gimana Di?” Tanya Kak Seni pada Kak Dodi di sebelahnya.  
“ Ya udah kasih aja. Lagian ini masih hari pertama”
Akhirnya mereka memberikan tandatangannya padaku. Ah, aku sangat senang sekali. Berarti tinggal tiga tandatangan lagi yang ku butuhkan. Aku pun bergegas pergi setelah sebelumnya berterimakasih pada Kak Seni dan Kak Dodi.
            Tinggal tiga tanda tangan lagi. Tapi kenapa rasanya sulit menemukan mereka. Apa hari ini semuanya sedang sibuk. Aku mengeluh sepanjang jalan. Aku sudah mencarinya di setiap ruangan.Di setiap sisi sampai di tempat parkiran. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat batang hidungnya setelah Kak Sena dan Kak Dodi tadi. Semuanya masih berada di dalam kelas dengan kelompoknya masing-masing.
            “ Aduh perutku laper banget nih. Apa aku makan dulu aja kali ya. Lagian kan nggak mungkin Kak Tari ataupun Kak Roy datang” Akhirnya setelah lama berpikir. Aku memutuskan untuk mengisi perutku dulu.
            Sampai di Kantin. Aku memesan sebuah soto dengan porsi banyak. Aku duduk dan  memandang tiga kolom kertasku yang masih kosong. “ Ah bagaimana ini kenapa jadinya susah banget” Aku menelungkupkan sebagian kepalaku ke bawah. Aku mengingat kejadian semalam. Bagaimana excited nya aku menyiapkan semua perlengkapan MOS ku. Tapi karena kesiangan, aku jadi tidak sempat sarapan dan sekarang aku jadi berakhir seperti ini.
            Tiba-tiba aku mendengar suara beberapa orang yang datang. Aku mendongak pelan melihat mereka. Takutnya itu Kak Tari atau Kak Rio. Bisa panjang jadinya kalau mereka disini. Tapi bukan. Ternyata bukan mereka berdua.  Kalau tidak salah mereka adalah Kak Fajar dan Kak Bagas. Mereka duduk dua meja dariku. “ Ini kesempatan yang bagus. Tapi aku laper banget nih” Kataku saat soto yang ku pesan datang. Aku menelan ludahku mencium aroma soto di hadapanku ini. Ini sangat menggiurkan. Bagaimana ini? Di satu sisi aku sangat kelaparan. Tapi di sisi lain aku harus meminta tandatangan mereka.
            Aku bergumam sendiri. Setelah berdebat cukup panjang dengan perutku. Akhirnya aku mengabaikan rasa laparku. Aku melepas dasi yang ku pakai lalu mengikatnya di kepalaku. “ Nggak ada cara lain. Ayo Indah semangattt” Aku berdiri dengan semangatku yang sudah berkobar. Aku lalu berjalan menghampiri mereka yang sedang makan.
            “ Pemisi kak” Kataku gugup.
            “ Kak saya minta tandatangan Kakak di kertas ini” Aku memberikan selembar kertas yang ku pegang pada mereka.
            “ Ini nggak akan semudah itu. Kalau kita kasih tantangan kamu mau kan?” kata Kak Fajar dengan senyum smirk-nya Aku hanya diam dan berpikir sebentar.
            Sudah kuduga moment ini pasti akan terjadi. Saat seorang murid baru sedang di hukum tidak mungkin mereka melewatkan kesempatan mengerjai adik kelasnya. Tapi kalau aku menolak. Aku tidak akan mendapatkan tandatangan mereka dan Kak Tari atau Kak Rio pasti akan memberikanku hukuman lagi. “ Ya udah kak boleh. Tapi apa?” Aku berdecak kesal dalam hati. Apa lagi sekarang?
            “ Kamu bisa nyanyi nggak?”. Aku terkejut mendengar Kak Bagas bertanya begitu.
            “ Hmmm...sedikit sih kak” Raguku.
            “ Ya udah kalau gitu sekarang kamu nyanyi di depan kita” Bukannya mengangguk iya aku malah menunduk diam. Aku tidak takut karena suaraku buruk tapi aku sangat malu karena ini pertama kalinya aku menunjukkan suaraku di depan umum.
            “ Kalau kamu nggak mau kita nggak bakal kasih tandatangan itu” Kata Kak Fajar yang membuatku sontak langsung mengangguk. Aku hanya perlu bernyanyi. Bukankah ini mudah, pikirku. 
            Setelah mengambil napas dalam-dalam. Aku mulai membuka suara bernyanyi. Aku menyanyikan lagu – I will fly-  dari Ten2five yang sering ku nyanyikan di kamar . Di part awal, aku bernyanyi dengan nyaman karena di kantin ini hanya ada kami bertiga dan beberapa ibu kantin lainnya. Aku berusaha untuk tidak terlalu tegang.
            Suasana menjadi hening ketika aku mulai memasuki bagian reff. Kak Fajar dan Kak Bagas memperhatikanku dengan serius. Tampaknya suaraku ini membius mereka. Di nada tinggi, aku mengeluarkan kemampuanku melakukan vibra seperti yang di lakukan penyanyi lain kebanyakan. Aku begitu menikmatinya sampai-sampai aku tidak menyadari kalau lagu yang ku nyanyikan sudah selesai.
            Kak Fajar dan Kak Bagas langsung berdiri memberiku tepuk tangan keras. Bahkan ibu-ibu kantin yangsedari tadi memperhatikanku ikut bertepuk tangan. Walaupun mereka tidak tahu lagu apa yang ku nyanyikan. Tapi melihat dari ekspresi mereka aku sudah sangat senang  Aku hanya tertawa kecil menanggapi pujian dari mereka setelah itu. Aku juga tidak menyangka kalau mereka akan mengatakan begitu. 
            “ Karena kamu nyanyinya bagus banget. Kita bakal kasih tandatangan” Kata Kak Bagas seraya menyoretkan tandatangannya di kertas itu. Lalu, Kak Fajar juga ikut memberikan tandatangannya. Aku bersorak senang. Akhirnya, setelah perjuanku tadi bernyanyi. Aku bisa mendapat tandatangan mereka.
            “ Makasih kak” Kataku seraya menjabat tangan mereka dengan senang.
            Aku lalu memperhatikan kolom di kertas ini yang sudah terisi empat. Tinggal satu lagi. Aku baru ingat kalau kolom ini harus diisi oleh formatur OSIS selain Kak Rangga. Lagi-lagi aku mendapat masalah. “ Kamu kenapa?” tanya Kak Bagas yang melihatku terlihat bingung.

            Aku memandang mereka dengan raut sedih. Berharap supaya mereka mau mebantuku kali ini. “ Ada satu tandatangan lagi. Tapi harus dari formatur OSIS selain Ketua OSIS”....